Proses, Jenis dan Pola Hujan

Wednesday, 6 January 2016

Proses, Jenis dan Pola Hujan

HUJAN

Dalam ilmu meteorologi dan klimatologi, presipitasi merupakan salah satu peristiwa atmosferik dari setiap produk kondensasi uap air di atmosfer. Presipitasi terbentuk melalui tabrakan antara butir air atau kristal es dengan awan.
Hujan merupakan salah satu bentuk presipitasi yang berwujud cairan. Hujan adalah proses kondensasi uap air di atmosfer menjadi butir air yang cukup berat untuk jatuh dan mencapai permukaan bumi tetapi apabila butir air menguap sebelum mencapai daratan disebut Virga. Hujan memerlukan keberadaan lapisan atmosfer tebal agar dapat menemui suhu diatas titik leleh es [0°C] di dekat dan di atas permukaan bumi.
Hujan berperan penting dalam siklus hidrologi dan merupakan sumber utama air tawar di bumi.

PROSES TERJADINYA HUJAN
    Air yang berada dipermukaan bumi akan mengalami proses penguapan [Evaporasi, transpirasi dan evapotranspirasi]. Kemudian uap-uap air hasil dari proses penguapan tersebut mengalami proses kondensasi hingga membentuk awan yang akan bergerak ke tempat yang berbeda dengan bantuan hembusan angin baik secara vertikal maupun horizontal. Pergerakan angin vertikal ke atas menyebabkan gumpalan awan semakin membesar dan saling bertindih-tindih. Jika gumpalan-gumpalan awan tersebut berhasil mencapai atmosfer yang bersuhu lebih dingin, butiran-butiran air dan es akan mulai terbentuk. Pada saat angin tidak mampu lagi menopang beratnya awan, awan yang sudah berisi air ini akan mengalami presipitasi atau proses jatuhnya hujan ke bumi.
    JENIS HUJAN
        1. HUJAN KONVEKTIF ATAU ZENITHAL
        Hujan konvektif ini sering terjadi di daerah tropis karena intensitas penyinaran matahari yang tinggi.
        Hujan konvektif atau zenithal adalah hujan yang terjadi karena adanya pemanasan sinar matahari pada suatu massa udara sehingga massa udara tersebut memuai atau naik dan mengalami pengembunan, atau menghasilkan hujan deras namun tidak berlangsung lama.
        Hujan jenis ini disebabkan oleh adanya perbedaan panas yang diterima oleh permukaan tanah dengan panas yang diterima oleh lapisan udara di atas permukaan tanah tersebut.

        Beda panas umumnya terjadi pada musim kering yang akan mengakibatkan hujan dengan intensitas tinggi sebagai hasil kondensasi massa air basah pada ketinggian diatas 15 km.

        Ciri-ciri :
        1. Intensitasnya tinggi.
        2. Berlangsung relatif cepat.
        3. Mencakup wilayah yang tidak terlalu luas.
        Hujan jenis ini biasanya tidak efektif untuk tanaman karena air hujan sebagian besar akan hilang dalam bentuk arus permukaan tanah.

        2. HUJAN OROGRAFIK ATAU RELIEF
        Jenis hujan yang umum terjadi di daerah pegunungan yaitu ketika massa udara bergerak ke tempat yang lebih tinggi mengikuti bentang lahan pegunungan sampai saatnya terjadi proses kondensasi. Pada lereng dimana gerakan massa udara tidak atau kurang berarti (leeward side), udara yang turun akan mengalami pemanasan dengan sifat kering. Daerah ini disebut daerah bayangan, hujan yang turun disebut hujan di daerah bayangan (jumlah hujan lebih kecil).
        Hujan orografik adalah hujan yang terjadi karena adanya gerakan udara yang menaiki pegunungan lalu mengalami kondensasi atau pengembunan. Udara yang telah mengalami kondensasi tersebut membentuk awan yang menimbulkan hujan.
        Hujan jenis ini terjadi akibat pembentukan awan pada lereng diatas angin (windward side) yang disebakan oleh terjadinya kondensasi gerakan udara naik ke pegunungan atau bukit yang tinggi.

        Hujan orografik dianggap sebagai pemasok air tanah, danau, bendungan karena berlangsung di hulu DAS.

        3. HUJAN KONVERGEN ATAU FRONTAL
        Hujan konvergen biasanya terjadi di daerah tropis. Hujan jenis ini umumnya memiliki ciri sangat lebat dan disertai banyak guntur, bahkan angin ribut. 
        Hujan konvergen terjadi akibat pertumbuhan awan yang terbentuk dari bertemunya dua massa udara yang berbeda suhunya. Massa udara lembab yang hangat dipaksa bergerak ke tempat yang lebih tinggi (suhu lebih rendah dengan kerapatan udara dingin lebih besar).

        Hujan jenis ini dibedakan menjadi :
        • Hujan frontal dingin
        Biasanya mempunyai kemiringan permukaan frontal yang besar dan menyebabkan gerakan massa udara ke tempat yang lebih tinggi lebih cepat sehingga hujan yang dihasilkan hujan lebat dalam waktu singkat.
        • Hujan frontal hangat
        Kemiringan permukaan frontal tidak terlalu besar sehingga gerakan massa udara ke tempat yang lebih tinggi dapat dilakukan perlahan/proses pendinginan bertahap. Hujan yang dihasilkan adalah hujan yang tidak terlalu lebat dan berlangsung dalam waktu lebih lama (intensitas rendah).

        4. HUJAN SIKLONAL
        Hujan siklonal terjadi karena pengaruh angin siklon.
        Angin siklon adalah angin yang berputar menuju ke titik pusat. Sedangkan angin yang berputar keluar dari titik pusat disebut angin anti siklon.
        Hujan jenis ini terjadi akibat pengaruh angin yang berputar (siklon) yang sangat berbahaya, karena sering menimbulkan bencana yang berupa tornado dan siklon tropis “Hurricane”.
        Kedua badai itu sering melanda Amerika Serikat (USA).


        POLA CURAH HUJAN 
          1. POLA MONSUN
          Pola ini terjadi akibat proses sirkulasi udara yang berganti arah setiap 6 bulan sekali. Karakteristik dari jenis ini adalah distribusi curah hujan bulanan berbentuk “ V “ dengan jumlah curah hujan minimum pada bulan Juni, Juli atau Agustus. Saat monsun barat jumlah curah hujan berlimpah sebaliknya pada saat monsun timur jumlah hujannya sangat sedikit. Banyak daerah di Indonesia yang mempunyai curah hujan dengan pola jenis Monsun.
          2. POLA EKUATORIAL
          Pola ini terjadi berkaitan dengan pergerakan matahari yang melintas garis ekuator sebanyak dua kali dalam setahun. Distribusi curah hujan bulanan mempunyai dua maksimum. Pola ini sering terjadi pada daerah ekuator.

          3. POLA LOKAL
          Distribusi curah hujan bulanan jenis lokal kebalikan dari jenis monsun. Apabila di daerah dengan pola monsun mengalami musim hujan maka daerah dengan pola lokal mengalami musim kemarau atau sebaliknya. Pola ini dipengaruhi oleh sifat lokal seperti kondisi geografi dan topografi setempat. Daerah yang mempunyai pola dengan jenis ini sangat sedikit, misalnya Ambon.

          Posted by : Juragandlieur
          This post Updated at :Wednesday, January 06, 2016